|
Sedep Kalongan di Sudut Jakarta |
|
|
|
|
Written by Aan Juanda
|
|
Tuesday, 15 December 2009 14:31 |
|
Kangen “ngomah” Pekalongan ?, atau ingin bernostalgia dengan suasana Pekalongan di Jakarta ?.
Mongggo mampir di rumah makan ‘Tauto Pekalongan Nino’ di daerah Tebet depan Pasar PSPT Jakarta Selatan. Bangunan rumah makannya tidak terlalu besar, tapi begitu anda masuk kedalam, suasana Pekalongan akan sangat terasa. Pernik-pernik khas Pekalongan seperti memuaskan kerinduan akan kota batik di Pantai Utara Jawa ini. Dari Becak Pekalongan yang terparkir di pojok ruang, peta Pekalongan, serta Lambang kota Pekalongan ditata apik. Foto-foto yang menjadi penanda kota juga menghiasi dinding, kabar kegitan ‘ OPEK’ (Organisasi Orang Pekalongan) di Jakarta ada terpampang, tidak ketinggalan Poster dan kegiatan ‘ASKARLO’ (Organisasi Alumni SMA 1 Kartini Pekalongan) juga ada disini.
|
|
|
Al Jahiz (776 – 869) Peletak Dasar Teori Evolusi |
|
|
|
|
Written by Hadi Sutedjo
|
|
Sunday, 24 January 2010 07:15 |
|
Al-Jahiz bukanlah Nama sebenarnya, kita sering menemukan nama-nama ulama, cendikia muslim hanya disebut secara singkat. Nama singkat tersebut biasanya nama julukan atau asal tempat kelahiran. Al-Jahiz bernama lengkap ABU UTHMAN AMR B BAHR AL-FUQAYMI AL-BASRI. Julukan Al-Jahiz diberikan oleh masyarakat sekitar karena bentuk mata yg unik.
Menurut catatan sejarah Al-Jahiz keturunan abesinia, berkulit hitam dan berpenampilan sangat sembarangan. Sebagian masyarakat Basra pada masa itu memandang Al-Jahiz sebagai warga non-arab kelas dua. Pandangan masyarakat sekitar terhadapnya yg berkesan merendahkan tidak membuat beliau berkecil hati. Diyakini, keadaan ini mengambil peranan cukup penting bagi perkembangan pilihan hidupnya, Al-Jahiz ingin menunjukkan pada masyarakat, meski sebagai warga kelas dua, dia memiliki kemampuan luar biasa dan menghasilkan karya-karya intelektual sangat mengagumkan, bahkan mewarnai sejarah perkembangan dunia dan mempengaruhi kaum intelektual seluruh dunia sepanjang masa.
|
|
Batik China Bikin Resah Pembatik Pekalongan |
|
|
|
|
Written by Akhmad Safuan
|
|
Friday, 22 January 2010 15:46 |
|
Penulis : Akhmad Safuan
PEKALONGAN--MI: Para perajin tradisional di Pekalongan, Jawa Tengah, resah dengan diberlakukannya pasar bebas ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA).
Mereka khawatir serbuan tekstil China dengan motif batik yang dijual di pasaran lebih murah akan merusak pasar batik. Keterangan dihimpun Media Indonesia di Pekalongan, Selasa (12/1), para pembatik tradisional yang biasanya bekerja secara home industry dan peralatan batik yang sederhana, seperti batik tulis dan cap serta lebih mengutamakan seni membatik, mengaku resah dengan pasar bebas.
|
|
KENALAN, JATUH CINTA, MENIKAH |
|
|
|
|
Written by Tedjo
|
|
Sunday, 17 January 2010 13:04 |
|
Sangat lazim dan nyaris seragam alur perjalanan kehidupan anak manusia (bahkan banyak binatang menjalani alur nyaris sama). Episode hubungan personal senantiasa terjadi dan akan terus terjadi, ribuan buku ditulis, jutaan puisi disajikan, puluhan ribu film dibuat dengan tema Hubungan Personal. Ada yang menamakannya Roman, ada yang menyebutkan Kisah Cinta, ada pula yang menganggapnya Tragedi.
Perjodohan
Pertama mengenalnya karena dijodohkan, aku merasa biasa saja. Dia bisa kudandani agar tampak seksi, elegan, trendy, atau tampak kuno dan antik. Kesetiaannya tidak perlu diragukan, lahir dari sebuah kecerdasan, didukung kekayaan sangat memadai. Namanya muncul dimana-mana, dan aku merasa perjodohan ini memang seharusnya terjadi, popularitasnya meningkat tajam dan bahagia bersamanya. Dia senantiasa memperbaiki diri secara teratur, bahkan ketika tidak kuinginkan.
|
|
Gus Dur Sempatkan Tandatangani Prasasti Masjid Syuhada |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 04 January 2010 13:28 |
|
■Minta Didoakan Habib Luthfiy
PEKALONGAN - Sebelum wafat di penghujung akhir tahun 2009, mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid menyempatkan menandatangani prasasti Masjid Asy Syuhada, Kota Pekalongan.
Menurut Sekretaris Yayasan Syuhada, Ahmad Slamet Irfan SH, prasasti tersebut sebenarnya sudah pernah ditandatangani Gus Dur tahun 2000, usai masjid diresmikan oleh Menko Polkam atau Mendagri saat itu, Soerjadi Soedirja. Namun, tak lama kemudian pecah.
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
|
Page 5 of 12 |