|
Batik Oey Soe Tjoen [1925] |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Sunday, 13 December 2009 08:31 |
|
PEMBUATAN selembar batik Oey Soe Tjoen bak ritual panjang. Awalnya, Muayah, pekerja di situ, menggoreskan lilin pada motif daun. Ia lalu menyerahkan hasil kerjanya kepada sang bos, Widianti Widjaja, yang lalu memeriksanya dengan teliti. Bila dianggap oke, kain akan diambil alih pekerja lain. Ia meneruskan pekerjaan untuk motif lain.
Menurut Widianti, semakin banyak motif yang hendak dikerjakan, semakin lama batik selesai. Satu batik dengan motif tertentu bahkan dikerjakan 15 orang. ”Proses produksinya bisa sampai satu setengah tahun,” katanya. ”Harganya sama dengan harga satu motor.” Dengan proses panjang pembuatannya, produksi batik Oey Soe Tjoen susah digenjot. Apalagi jumlah pekerjanya tak sebanyak dulu. Kini paling banyak mereka bisa membuat dua lembar batik setahun. Ini sangat timpang dibandingkan dengan generasi awal yang mampu menghasilkan berpuluh helai.
|
|
|
SOSOK Ir. H. DJUANDA KARTAWIJAYA: PENGABDI REPUBLIK INDONESIA TANPA HENTI DAN SEJARAH DEKLARASI DJUA |
|
|
|
|
Written by bhawika
|
|
Sunday, 13 December 2009 18:44 |
|
SOSOK Ir. H. DJUANDA KARTAWIJAYA: PENGABDI REPUBLIK INDONESIA TANPA HENTI DAN SEJARAH DEKLARASI DJUANDA
Oleh: Didik Prajoko, M.Hum. & Asep Kambali, S.Pd.
Hari ini tidak nampak satu pun status FB/FS/Twitter,dll. tentang Hari Nusantara. Sedih sekali, padahal pada 13 Desember 1957 perdana menteri Ir.H. Djuanda telah melakukan terobosan besar dalam mengintegrasikan seluruh wilayah kepulauan & laut yang menjadi wilayah teritorial Indonesia dgn mencanangkan Deklarasi Djuanda. Namanya diabadikan sebagai nama jalan, bendungan, stasiun KA, bahkan bandara. Tp trnyta qta tdk mngenalnya, karena kita telah melupakannya :"( Mari blajar lagi sejarah! ;-)
Nggak banyak generasi masa kini yang mengenal sosok Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, meski namanya sudah sangat banyak diabadikan ke dalam nama jalan, nama bendungan, nama stasiun kereta api (di Jakarta) dan bahkan nama bandar udara di kota Surabaya. Banyak tokoh-tokoh yang hidup semasanya juga berpikir yang sama bahwa dalam dua puluh tahun terakhir ini namanya tidak menjadi buah bibir generasi muda, padahal Ir. H. Djuanda Kartawidjaja telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasiona RI. Walah, jangan-jangan banyak para elit Republik ini mengalami sindrom yang sama, yaitu sama sekali tidak mengenalnya. Ironis...
|
|
Pameran Batik di Thamrin City |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Friday, 11 December 2009 13:48 |
|
Pekalongan Bersaing dengan Yogyakarta
PEKALONGAN - Sudah agenda, setiap Jumat sampai Minggu para pengusaha Industri Kecil Menengah (IKM) mengikuti pameran batik di Thamrin City, Jakarta.
Lebih dari tiga kali mereka mengikuti kegiatan itu, dan setiap berangkat ke Jakarta pesertanya selalu bertambah. Ketika kali pertama mengikuti pameran, pengusaha IKM yang ikut hanya 38 orang.
Minggu berikutnya, jumlahnya bertambah menjadi 56, dan pekan ini peserta yang ikut pameran sebanyak 75 orang.
|
|
Batik Pesisir Pekalongan yang Kaya Warna dan Corak |
|
|
|
|
Written by Adeste Adipriyanti
|
|
Tuesday, 08 December 2009 08:19 |
|
MEMBICARAKAN batik, seolah tidak aka nada habisnya. Setelah kita membahas macam-macam motif batik Jawa Tengah dan cara merawat kain batik, kini kita akan sedikit bergeser hingga menuju daerah pesisir utara Jawa, Pekalongan.
Di kota ini, lalu lintas perdagangan batik sangat tinggi sangat luar biasa. Mereka tak hanya menerima batik yang dipengaruhi oleh motif-motif keraton dengan warna-warna kawung. Sebelum lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apakah sesungguhnya teknik membatik itu.
|
|
Catatan untuk kangen Bune, Pakne dan kota masa kecil |
|
|
|
|
Written by Aan Juanda
|
|
Saturday, 05 December 2009 09:37 |
|
Lha kok kepikir, kepingin nulis catatan jaman cilik, jaman SD di Pekalongan tahun 70- an awal, paling eling yen dijak bune atau Pakne blonjo ke Pasar Sentiling, iku lho pasar yang lokasinya di tengah kota di Jalan Sultan Agung, turunan brook loji. Menurutku, dijaman anak-anak dulu, hanya ada 2 tempat yang luar biasa hebat di Pekalongan, pertama, Ngeboom dan kedua adalah Pasar Sentiling.
Kalau pergi dengan Bune ke Pasar Sentiling, sejak berangkat dari rumah di Jalan Indragiri, suasananya sudah istimewa, mergo numpak becak. Diawali Bune ngenyang becak.
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
|
Page 7 of 12 |