|
Masjid Syuhada, Dulunya Gedung Kempeitai |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Friday, 20 November 2009 08:26 |
|
BEKAS Gedung Kempeitai Pekalongan yang berada di Jl Pemuda kota Pekalongan, tepatnya di sebelah timur lapangan Monumen Juang, menyimpan banyak sejarah yang berharga bagi perjuangan masyarakat Pekalongan pada masa kemerdekaan tahun 1945.
Dengan luas tanah 5.000 m2, masjid ini dahulu merupakan markas kempeitai, dan lahannya menjadi saksi bisu bagi perjuangan masyarakat Pekalongan.
|
|
|
Hani....Kami semua sayang padamu |
|
|
|
|
Written by AJ
|
|
Tuesday, 24 November 2009 00:00 |
|
Berkunjung ke “rumah” Hani di http://haneyney.multiply.com/ , sepertinya tergambar jiwa Hany yang akrab, riang dan selalu mengisi hari-hari nya dengan optimisme yang berpendar-pendar. Nur Hanifah putri pertama dari 4 bersaudara kelahiran Pekalongan 26 April 1986 ini, sangat dikenal di kalangan rekan-rekan Askarlo, lantaran ketulusanya untuk aktif dan selalu terlibat dalam kegiatan di kalangan aktifitas organisasi Alumni SMA Negeri 1 Pekalongan.
|
|
Written by Dian Spatikeswari
|
|
Saturday, 21 November 2009 08:04 |
|
Menapaki Semarang di waktu malam, membawa langkahku tak sekedar berhenti menikmati pusat keramaian kota, Simpang Lima. Hasrat untuk menikmati sisi lain kota membawa langkahku ke kawasan Perkampungan cina, di kawasan Pekojan. Satu kawasan yang siang hari merupakan Pusat pergerakan ekonomi di Semarang, satu kawasan perdagangan besar di Semarang, kawasan yang dipenuhi beraneka toko, dari toko kain, toko obat, toko emas, toko bahan bangunan, toko bahan kimia, toko bahan pokok dan perlengkapan rumah tangga, hingga Bank. Kawasan yang begitu sibuk di waktu siang, dengan hiruk pikuk truck pengangkut aneka barang, beserta teriakkan kuli panggul, sontak akan menghilang menjelang sore tiba.
|
|
Dua Warga Jepang Belajar Membatik |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 26 November 2009 09:13 |
|
PEKALONGAN - National Research Institute for Cultural Properties (NRICP), Tokyo, kemarin melakukan riset mengenai pengembangan pembelajaran batik di Kota Pekalongan.
Dua orang dari NRICP itu adalah Saigeyuke Miyata (direktur) dan Naoko Matsuyama (pakar). Keduanya mengunjungi beberapa sekolah mulai TK hingga SMA yang menyelenggarakan muatan lokal batik.
Dua warga Jepang yang didampingi Gaura Mancacaritadipura, KRT, pakar budaya penghubung UNESCO terlihat kagum melihat pembelajaran batik di sekolah-sekolah.
|
|
Written by Aan Juanda
|
|
Saturday, 14 November 2009 06:58 |
|
Saya merenung membaca SMS yang saya terima dari sobat sekaligus pengkritik saya paling tajam, siapa lagi kalau bukan Duladi cah Pekalongan itu. Begini bunyi SMS nya.
“Banyak Semar di Jakarta, dia sedang ada dimana-mana?, kowe kroso ndak?”.
Semprul temenan Duladi, pesen SMS nya selalu memberi peluang ke saya untuk bebas menterjemahkan, makna ganda, lha pilihan ganda soal ujian saja sudah dianggap membuat siswa ndak kreatif, ini makna ganda suka-suka, jauh lebih membingungkan dan bisa mengacaukan bila pemaknaannya berbeda dari kebanyakan orang.
Selepas membaca SMS, saya jadi berpikir, apa yang dimaksud Duladi dengan "Semar" ?. Di cerita Ramayana atau Mahabarata versi asli, tokoh Semar tidak dikenal. Semar adalah tokoh pewayangan ciptaan pujangga lokal asli jawa, di Jawa Tengah Semar punya anak, Petruk, Gareng, dan Bagong, dulur pindah ke Jawa Timur, anak semar tinggal satu yaitu Bagong, dan Bagong sendiri punya anak namanya Besut, sedang kalau dulur ke Jawa Barat, anak Semar menjadi Cepot, Dawala dan Gareng. Ada banyak versi garis keturunan Semar, baik garis keatas ke para leluhur, maupun ke bawah garis anak -cucu.
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
|
Page 8 of 12 |