Home Edukasi Al Jahiz (776 – 869) Peletak Dasar Teori Evolusi

Who's Online

We have 18 guests online

Statistics

Content View Hits : 17418

Login Form



Al Jahiz (776 – 869) Peletak Dasar Teori Evolusi PDF Print E-mail
Written by Hadi Sutedjo   
Sunday, 24 January 2010 07:15

Al-Jahiz bukanlah Nama sebenarnya, kita sering menemukan nama-nama ulama, cendikia muslim hanya  disebut secara singkat. Nama singkat tersebut biasanya nama julukan atau asal tempat kelahiran. Al-Jahiz bernama lengkap ABU UTHMAN AMR B BAHR AL-FUQAYMI AL-BASRI. Julukan Al-Jahiz diberikan oleh masyarakat sekitar karena bentuk mata yg unik.
       Menurut catatan sejarah Al-Jahiz keturunan abesinia, berkulit hitam dan berpenampilan sangat sembarangan. Sebagian masyarakat Basra pada masa itu memandang Al-Jahiz sebagai warga non-arab kelas dua. Pandangan masyarakat sekitar terhadapnya yg berkesan merendahkan tidak membuat beliau berkecil hati. Diyakini, keadaan ini mengambil peranan cukup penting bagi perkembangan pilihan hidupnya, Al-Jahiz ingin menunjukkan pada masyarakat, meski sebagai warga kelas dua, dia memiliki kemampuan luar biasa dan menghasilkan karya-karya intelektual sangat mengagumkan, bahkan mewarnai sejarah perkembangan dunia dan mempengaruhi kaum intelektual seluruh dunia sepanjang masa.
       Al-Jahiz menghabiskan masa kecil di Basra, kemudian pindah ke Bagdhad untuk memenuhi panggilan Khalifah al-Makmun yg gemar mengumpulkan orang-orang berbakat untuk menulis buku guna memperkaya perpustakaan istana. Khalifah sangat menghargai karya-karya Al-Jahiz dan menempatkannya sejajar dengan karya-karya intelektual besar pada masanya.
       Para pakar meyakini, bahwa Al-Jahiz adalah pemikir pertama yg mempresentasikan pemikiran EVOLUSI BIOLOGI dalam khasanah pemikiran Islam. Kota Basra terkenal sebagai kota yg dihuni para rasionalis dan realis, Al-Jahiz adalah salah satu ikon Basra dalam pola berpikir ini. Rasionalitas Al-Jahiz sama sekali tidak mengurangi kecintaan dan penghormatannya kepada Kitabullah al-Qur’an al-Karim.
       Dalam karya master-piece nya AL-HAYAWAN [al-Hay-wan], sebuah ontology tentang hewan, meski dalam karya ini Al-Jahiz sering melebarkan pembahasan memasuki ruang lingkup teologi, metafisik dan sosiologi. Al-Jahiz telah meletakkan dasar pemikiran fundamental tentang pokok pemikiran Evolusi. Al-Jahiz mencoba mengeksplorasi dengan keluasan pengetahuannya dan kecerdasan akalnya, untuk sampai pada asal-usul spesies. Al-Hayawan memetakan secara ‘mendetail’ tentang spesies hewan dan tumbuh-tumbuhan pada masa itu. Sehingga sampai pada keyakinan bahwa kehidupan mengandung hukum dari satu transformasi ke transformasi, dari satu tingkatan ke tingkatan selanjutnya. Al-Jahiz mengindikasi eksisnya ‘pertarungan’ antar dan inter spesies untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka, juga mengindikasi adanya proses seleksi alam terhadap Makhluk Hidup.
       Sebagai Muslim sejati, Al-Jahiz meyakini Hanya ALLAH SWT yg menciptakan seluruh eksistensi di jagad raya. Ketika ALLAH SWT menciptakan materi [makhluk], juga melengkapi dengan kemampuan untuk berevolusi.  Untuk berubah secara gradual, dan hanya ALLAH SWT sebagai dzat yg tak pernah berubah.
       Pokok pikiran Al-Jahiz dipertajan oleh cendikiawan muslim selanjutnya Ibnu Miskawaih dan Kamaluddin al-Damiri, sebagai dua dari sekian cendikiawan muslim yg menyetujui postulasi ilmiyah Al-Jahiz. Al-Jahiz menulis lebih dari 100 judul buku meliputi bidang biologi, botani, zoology, sosiologi, politik dan ekonomi, namun hanya sekitar 30 judul yg bisa diselamatkan ketika perpustakaan Bagdhad dibakar oleh Hulagu Khan.
       Satu hal yg sangat menarik dari Al-Jahiz adalah gaya penulisannya yg ‘bebas’; pilihan kosakata sederhana dan membawakannya dengan gaya kocak bahkan untuk persoalan yg sangat serius, sehingga sebagian cedikiawan barat menjulukinya sebagai The Greatest Moslem Joker. Gaya menulis bebas belum dikenal pada masa itu, terutama untuk buku-buku serius yg membahas filsafat, teologi dan politik. Al-Jahiz memberikan warna baru dalam khasanah gaya menulis kota Bagdhad. Banyak karya satire ditulisnya untuk menjawab penghinaan kaum sunni atas diri dan gurunya yg memiliki kecenderungan ke mazhab Mutazillah.
       Kehidupan Al-Jahiz berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain antara Basra, Bagdhad dam Samara, hari-harinya lebih banyak dihabiskan di ruang perpustakaan, bahkan saat meninggal di tahun 869 M di kota kelahirannya Basra, dikabarkan jasadnya tertimbun buku-buku yg senantiasa mengelilingi diirinya.

 

(Penulis adalah warga Askarlo,  tinggal di Banda Aceh dan Jakarta)

Note : Gambar pelengkap Al Jaiz diambil dari  : http://rammb.cira.colostate.edu/dev/hillger/ancient.htm

 

 

Comments  

 
0 #2 Agus Handoyo 2010-01-24 17:34
kok fotonya mirip sama penulisnya yah...? btw, apa meninggalnya karena "ketiban" koleksi buku2nya (mungkin pas ada gempa) ?
Quote
 
 
0 #1 Aan Juanda 2010-01-24 07:55
jaman SMA aku diwulang Pak Rusdi mung kenal Charles Darwin dengan Teori evolusinya lewat "The Origin of Species" nya. Ternyata Al Jaiz ini, sudah memulai ratusan tahun sebelum Darwin dilahirkan yo Kang...., suwun untuk tulisane...
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh