Home Catatan Lepas Gong Xi Fa Choi

Who's Online

We have 15 guests online

Statistics

Content View Hits : 17301

Login Form



Gong Xi Fa Choi PDF Print E-mail
Written by Peng An   
Saturday, 13 February 2010 08:45

Pagi tadi saat jalan bareng keluarga di pasar lama Tangerang, ada suasana yang berbeda, Jalan Ki Samaun tempat pasar lama berada, kawasan yang dikenal dengan kawasan cina benteng nampak lebih ramai, lebih susah parkir , dan toko – toko didominasi warna merah, dan pernak-pernik menyambut imlek, bener-bener menciptakan suasana yang dinamis menyenangkan, dari Lampion berbagai model dan ukuran, pohon Hoki lengkap dengan bungkusan kertas Ang Pao yang bergelantungan di antara cabangnya,  sampai makanan khas imlek seperti Kue Keranjang, Manisan, Kue Mangkok , Mie, dan jeruk Lokam, semua tersaji berlimpah. Kalau kita masuk lagi kedalam pasarnya  , kita akan temukan ikan bandeng dengan ukuran besar-besar yang jarang kita temukan di hari-hari biasa. Bandeng yang dipelihara khusus selama satu tahun di daerah pertambakan Mauk dan Kronjo yang berada di pinggiran Tangerang ini, hanya di panen untuk keperluan imlek. Bandeng-bandeng ini dikenal dengan nama Bandeng mertua, lantaran jadi bawaan menantu ke mertua di saat jelang imlek, lalu sang mertua akan memasaknya dan memakan bersama beserta anak dan cucu. Bersyukur dari tahun ke tahun, perayaan ini makin terbuka dan bisa diterima sebagai bagian dari perayaan hari besar di bumi Indonesia tercinta ini.

Saya jadi inget, semasa kanak dulu di tahun 80 an awal di Pekalongan, Imlek bagi saya saat itu hanya sebatas ibu yang mendapat kue keranjang dari teman-teman Tionghoanya yang ada di Pekalongan. Sebatas itu, tak ada iklan di media, tak ada bertaburan kata Gong Xi Fat Chai di setiap sudut kota yang ditulis lewat spanduk, tak ada dominasi warna merah apalagi huruf-huruf cina yang khas itu, Imlek tahun 80 an adalah imlek yang malu-malu.

Dulu waktu area kerja saya sampai ke Kalimantan Barat, setiap imlek saya selalu menyempatkan waktu untuk ke sana,dan menuju kota Singkawang,kota yang penduduknya 51 % Tionghoa dan saat itu  punya Bupati yang keturunan Tionghoa, saat itu saya sangat menikmati malam-malam berwisata budaya di Singkawang,kota perajin keramik,  kota Amoy dengan ribuan vihara ini (angka sebenarnya ada 460 kelenteng), dengan satu vihara besar di tengah kota. SIngkawang diwaktu imlek,vihara-vihara penuh dengan orang-orang, tetamburan suara mercon dan tradisi perayaan ramai dilakukan dan ditonton warga. Saat itu Singkawang berubah menjadi mirip pedesaan di Tiongkok sana,maklumlah setiap imlek di Singkawang tidak hanya warga setempat yang melakukan perayaan,Singkawang menjadi kota tujuan wisata imlek bagi puluhan ribu warga etnis Tionghoa dari Hongkong,Taiwan, Singapore dan Malaysia, belum lagi "saudara" Tionghoa yang tinggal di kota lain di Indonesia (banyak datang dari Semarang), mereka pulang untuk berziarah ke makam leluhur.

Perayaan yang berlangsung 15 hari ini akan ditutup dengan perayaan Cap Go Meh,pada perayaan ini hampir semua kelenteng, akan menampilkan para louya (sepeti rahib) yang kemasukan roh halus (mereka menyebutnya atraksi Tatung), konon roh leluhur yang merasuki adalah leluhur  yang pernah hidup ratusan, bahkan ribuan  tahun lalu, satu perayaan yang penuh aura magis, sehingga para louya mampu melakukan hal-hal yang tidak biasa seperti menusukkan pedang atau benda tajam tertentu ke dalam mulutnya. Di jalanan ada beberapa rombongan Barongsai beraksi menyusuri jalanan singkawang, mengunjungi rumah-rumah warga, konon rumah-rumah warga yang dikunjungi Barongsai ini bakalan banyak dikunjungi rejeki.

Hari ini, perayaan imlek sudah semakin cair, imlek sudah jadi bagian perayaan hari besar lain di bumi Indonesia. Sama seperti Idul Fitri, Natal, Waisyak,  dan Nyepi, ternyata betapa berwarnanya perayaan yang hidup di Bumi Indonesia ini kawan.  Dan Imlek saat ini,saya bisa ikut menikmati, paling tidak,  kemarin APin temen saya yang jualan jam di Mal Metropolis - Tangerang mengirimkan 4 kue keranjang,yang konon katanya sengaja khusus didatangkan dari Singkawang, dan satu pak besar  kardus berwarna merah berisi  buah jeruk Lokam mandarin,  dan aku cukup membalasnya dengan  mengucap salam, “xiong hie…xiong hie Pin…” sambil kedua tangan  saya menyatu mengepal dan  meletakkan di dada. Apin tertawa, dan membalas ucapan saya. “Kamsia…kamsia…”katanya

Bagi saya, kultur budaya Tiong Hoa ini luar biasa, sangat lentur dan cair, sehingga seperti air,  dia mudah menyatu dan beradaptasi dan mengisi dimana mana, kesan pemikiran tentang eksklusivisme pada budaya Cina, saya pikir bisa jadi lantaran sekat yang terlanjur sengaja dibuat di era yang lalu,cobalah mampir di vihara Boen Tek Bio – Pasar Lama tangerang-, betapa vihara –sebagai pusat keyakinan dan budaya- bisa hidup berdampingan ditengah pasar. Dan semua bebas masuk vihara, apapun agama kita kawan , dan bagaimanapun cara berpakaian kita. Menarik memperhatikan saudara kita khusyu berdoa dengan Hio, cukup bersandal jepit dan bercelana pendek. Sambil membawa tas jinjingan belanja pasar. Sesuatu yang bisa jadi sulit diketemukan pada cara berdoa keyakinan lainnya.Menarik memperhatikan beberapa bapak Tionghoa muda mengajari anaknya yang masih balita khusyu berdoa.

Rasanya menyenangkan sekali, bahwa saat ini, perbedaan keyakinan, kultur atau budaya (lantaran multi ras ke Indonesiaan kita), bisa disikapi menjadi kekuatan bersama di Negeri yang kita diami bersama  ini, perbedaan bukan menjadi sumber konflik. Seperti Apin dengan kiriman jeruk Lokam Mandarin dan kue keranjangnya. Seperti opor Ayam dan ketupat yang saya  kirim saat hari Raya Iedul FItri padanya. Pasti nyaman dinikmati lantaran disana ada warna saling menghargai, ada warna  ketulusan.

Untuk yang merayakan ....

“Kung Tsi Fa Shai, ”

Salam,

Peng An

Catatan :

(Penulis adalah warga Askarlo, saat ini tinggal di Tangerang)

Foto pelengkap diambil dari hasil bidik Asikin Sukatmasaputra dan AJuanda, saat acara Hunting foto bersama Askarlo di Tangerang)

 

 

Comments  

 
0 #2 Aan Juanda 2010-02-14 08:12
Suwun Kang Mubien,
Hunting nya sudah lama kang, ini malah sebelum hunting rame-rame ke Hutan Cifor rumah Kang DAB itu. Waktu di Tangerang kami sempat motret, yang jadi objek hunting kami adalah para penangkap ulat sungai di alur sungai Cisadane, lalu "blusukan" masuk ke pasar lama Tangerang, dan tentu Ke Boen Tek Bio, vihara tertua di kota Tangerang yang berada di tengah pasar lama, ya ..ditengah pasar kang. Syukur sempat juga motret Masjid seribu pintu (lokasinya agak ke dalam), mesjid dan arsitektur yang heheheh...., sungguh sangat berbeda (bisa bayangkan satu mesjid yang arah kiblatnya ndak jelas, banyak sekali pintu,banyak sekat ruang didalamnya, dan ada kerlap-kerlip lampu lagi). Yuuuk kapan nih bikin acara lagi?
 
 
0 #1 Achmad Mubin 2010-02-13 10:01
Tulisan yang menarik kang Peng An...
Lha kapan kuwi ono acara hunting foto tangerang..? Nyong koq ora diajak...