Home Review Makhluk Biru Dari Pandora

Who's Online

We have 17 guests online

Statistics

Content View Hits : 17317

Login Form



Makhluk Biru Dari Pandora PDF Print E-mail
Written by AJ   
Wednesday, 30 December 2009 16:18

Review Film    : Avatar 3D
Jenis Film       :  Sci-Fi, Animasi
Produser        : James Cameron, John Landau
Produksi         : 20th Century Fox

 

Apa batas Imajinasi ?, langit…, langit   adalah sesuatu yang tak berbatas, seperti langit, demikian juga imajinasi,  ketika dibiarkan lepas tanpa dibatasi , imajinasi bisa berlari nyaris menembus batas pikir yang manusia punya. Bagaimana jika imajinasi di satukan dengan teknologi film terkini ? Avatar 3D jawabnya. Satu film sci-fi yang menggabungkan seni acting dan animasi, komputasi datanya mampu menghadirkan efek visual nan  artisitik, hingga mampu menghadirkan imajinasi nyaris nyata hadir di depan mata kita. Setelah Star Wars, Lord of the Rings,  bisa jadi Avatar 3D adalah tonggak terbaru inovasi dalam teknologi film (dan bisa jadi terdasyat, untuk saat ini, begitu kompas menulis).

Selain animasi yang dibuat begitu nyata, suguhan tayangan 3D yang dihasilkan pun hebat, konon film ini menggunakan teknologi generasi terbaru dari kamera stereoskopi, semacam gabungan dua kamera yang mempunyai perspektif yang berbeda tapi digabungakn bersama, sehingga kita mendapatkan pengalaman  baru saat menontonnya.

Ide film Avatar adalah gabungan dari cerita-cerita Sci-fi yang dibaca oleh penulisnya di masa kanak-kanak. Tahun 1994 selepas membuat film Titanic, James Cameron sang sutradara,  mulai mengumumkan untuk membuat film Avatar, namun project ini tertunda karena keterbatasan teknologi yang tersedia saat itu. Dua belas tahun kemudian setelah teknologinya dianggap memungkinkan project film ini dilanjutkan memenuhi ambisi Cameron.  Seperti di release secara resmi, film ini menghabiskan biaya 237 juta USD, atau setara 2,3 Triliyun. Bandingkan dengan film Sang pemimpi yang  menelan biaya 1,1 M, artinya diperlukan biaya 2000 kali biaya untuk membuat Avatar dibanding membuat film Sang Pemimpi.

Konon Sutradara sekaligus penulis Film ini James Cameron, menghadirkan team khusus untuk menghidupkan  sosok makhluk Na’vi, makhluk biru bertotol putih berekor setinggi 3 meter, lengkap dengan budaya primitive yang humanis,  perilakunya  melompat dari pohon ke pohon dan berkendara burung angkasa. Sebegitu detailnya Cameron menyiapkan semuanya , “Bahasa Na’vi” pun di ciptakan khusus dan tidak asal bunyi, termasuk bagaimana makhluk Navi ini menangis. Planet Pandora tempat hidup makhluk navi, digambarkan sebagai hutan subur dan sungguh spektauler. Info terakhir dari Yahoo.com,  Avatar telah membuat rekor Box office baru dalam sejarah perfilman.

Film ini sendiri bercerita tentang ambisi  manusia untuk menambang mineral adamantium yang berharga di Planet Pandora, sebuah planet cantik dihuni berbagai makhluk aneh, dari yang  nampak sangat  indah hingga yang menakutkan. Di Pandora ini, manusia tidak dapat hidup, kecuali menggunakan masker pelindung atau mengubah diri dalam bentuk makhluk setempat.

Adalah Jake Sully (Sam Worthington), mantan mariner yang cacat kedua kaki  akibat perang, terpilih untuk ikut berpartisipasi dalam program Avatar.
Dengan menggunakan tubuh Avatar inilah Jack bisa berjalan kembali, bahkan akhirnya diterima oleh makhluk Navi  dan belajar perilaku dan budaya Navi dari Neytiri, sosok perempuan Navi, sampai akhirnya,   Jake jatuh cinta kepada Neytiri.

Ambisi dan keserakahan mendorong manusia  melakukan penyebuan ke planet Pandora, penyerbuan yang mendorong Jake untuk mengambil sikap, membantu manusia atau berada membela Navi.

Usai menontonnya saya masih merenung, saya melihat paradigma baru dalam membuat dan melihat sebuah film, ya saya serasa menonton tontonan jenis baru bukan sebuah film.
Ceritanya sendiri sederhana, diluar teknologi pembuatannya yang memang luar biasa,  sebenernya banyak nilai yang ditawarkan di film ini. Secara tersirat film ini bicara tentang lingkungan, dan keseimbangan alam, menentang eksploitasi yang berlebihan terhadap alam. Film ini juga meneriakkan semangat anti perang. Pada akhirnya menonton film ini, seperti melihat kebanyakan perilaku kita, perilaku manusia, yang mengambil apa saja yang kita butuhkan dari alam, lalu nyaris membiarkannya begitu saja setelah apa yang kita ambil habis tak bersisa

Jika anda belum menontonnya, saya menyarankan anda melihat versi 3D nya, untuk dapat merasakan pengalaman yang lebih baru.
Jika anda belum menontonnya,  saya sarankan anda untuk nonton, sayang jika satu tonggak sejarah film yang lewat tepat di depan mata kita, namun  kita membiarkannya berlalu…